ASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WA BARAKATUH. SELAMAT DATANG DI BLOG YANG SARAT ILMU PENGETAHUAN DAN INFORMASI

Minggu, 08 Februari 2009

POTRET BURAM GURU SWASTA INDONESIA


Disadari atau tidak, konstalasi guru di Indonesia mengalami dikotomi. Guru Indonesia membelah menjadi dua sel ; guru negeri dan guru swasta. Guru Negeri adalah guru yang diangkat oleh dan bertanggung jawab kepada atasan dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional, sedangkan guru swasta adalah guru yang diangkat oleh dan bertanggung kepada ketua yayasan sebagai pemilik modal. Belakangan ini dikotomi guru negeri-swasta itu semakin menajam sehubungan dengan pemberlakuan Undang-Undang Guru dan Dosen khususnya yang berkenaan dengan kesejahteraannya. Menurut analisa beberapa pakar pendidikan, selain dikotomi, terjadi pula diskriminasi jumlah penerimaan tunjangan. Guru negeri menerima tunjangan lebih besar dari guru swasta. (baca Kompas, Senin, 15 September 2008)
Fenomena ini menarik untuk disimak mengingat profesi guru yang memiliki kapasitas ruang yang sama. Sama-sama bertugas mencerdaskan anak bangsa melalui pendidikan dan pengajaran. Namun jika profesi guru dikomparasikan dengan profesi-profesi lainnya seperti dokter dan psikolog, profesi guru adalah profesi yang termarginalkan. Mengapa ? Karena profesi yang mempunyai penerimaan kesejahteraan paling minim adalah profesi guru.
Dalam kondisi ekonomi seperti sekarang ini, siapa berani munafik untuk tidak berpikir ekonomis dan hitung-hitungan. Di saat sulit seperti ini, guru swasta menjerit karena antara pemasukan dan pengeluaran tidak terjadi keseimbangan. Kondisi sulit seperti ini memaksa otak untuk mencari jalan keluar. Meskipun tidak semua guru swasta, beberapa fakta mengemukakan sejumlah potret buram wajah guru swasta Indonesia. Ada guru swasta terpaksa mengobyek menjadi tukang parkir, tukang ojek, dan makelar tanah hingga nyaris tak ada waktu baginya menyiapkan bahan pengajaran untuk esok hari. Ide-ide cemerlang pengajaran yang mutakhir seperti sekarang ini, terasa bagai barang rongsokan, penghias meja-meja rusak di rumah mereka.

Guruku jadi PemulungInilah fakta yang tak dapat dipungkiri lagi, telah terjaring seorang mantan guru yang terpaksa menjadi pemulung di Kota Bekasi untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.. Menurutnya, profesi guru sangat tidak menjanjikan bagi masa depannya kelurganya. Setelah lepas dari profesi guru, tak sedikitpun harta yang dapat dijadikan modal hidup selanjutnya.
Pada kasus lain yang lebih fenomenal , seorang yang selain guru juga merupakan Kepala Sekolah Madrasah Tsanawiyah Tsafinatul Husnah di Jalan Bambu Larangan RT 03 RW 05 Cengkareng Barat, Jakarta Barat, namanya Mahmud. Gaji lima ratus ribu sebulan tidak cukup untuk kebutuhan keluarganya bersama istri dan ketiga anaknya, akhirnya mulung jadi pekerjaan sampingan. Sungguh fenomenal, seorang alumnus Jurusan Matematika Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Jakarta ini tak dapat mengandalkan profesi keguruannya untuk menopang hidupnya.Pantaskah Mahmud melakukan hal itu di tengah himpitan ekonomi yang menderanya.
Lain di Indonesia lain pula di Jepang. Jangan ditanya seberapa sejahterakah guru-guru di Jepang ? Kalau ditanya semakin menambah getir perasaan ini. Di Indonesia profesi guru sangat terpinggirkan, sebab boleh dikatakan profesi guru di Jepang adalah profesi yang bergengsi. Penghormatan kepada profesi guru pun apresiatif sekali. Jika kita simak dan telaah sistem penggajian guru di Jepang berdasarkan salary sedunia yang dapat diakses pada http://www.educationworld.net/salaries_jp.html, maka mata guru Indonesia boleh terbelalak . Seorang guru muda akan memperoleh 156,500 yen per bulan, dengan kurs hari ini (setara dengan 156,500 x Rp75.295 = Rp 11,783,667). Atau bisa juga dibandingkan dengan beasiswa dari Monbukagakusho (kementerian pendidikan Jepang) untuk mahasiswa asing sebesar 172,000 yen per bulan, yang dengan uang sebesar itu sebagian mahasiswa dapat menabung dan membeli rumah di Indonesia. Kalau gaji guru di Indoensia mapan – cukup dan tinggi, tentu tidak ada lagi guru yang melakukan kerja sambilan, sebab penghasilan bulanannya sudah sangat mencukupi. Selain menerima penghargaan secara ekonomi dengan sangat baik, para guru di Jepang juga memiliki posisi terhormat di masyarakat.
Secercah harapan akan masa depan profesi guru yang lebih baik dan senyum mengembang di bibir para guru. Persoalan dapur dan beban hidup yang makin berat yang selama ini menghimpit guru akibat gaji rendah mungkin segera terpecahkan. Pemerintah dan DPR akhirnya sepakat memenuhi anggaran pendidikan dinaikkan dari 17 % menjadi 20 %. Mudah-mudahan hal ini menjadi nyata adanya. Ini merupakan indikasi positif perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan guru.
Pada sisi lain, banyak para guru swasta terpaksa mengorbankan waktu istirahatnya dengan mengajar di sekolah lain atau memberikan les privat kepada anak didiknya. Itu semua dilakukan untuk membuat dapur agar tetap ngebul. Toh cara itu belum cukup untuk menutupi biaya hidup yang sepanjang enam tahun terakhir terus membumbung tinggi. Honor mengajar di sekolah swasta umumnya sangatlah kecil. Kondisi ekonomi bagi profesi guru jangan pula sampai menjadi komoditas politik sesaat bagi para politisi. Sebab guru juga termasuk komunitas terbesar di bagian pegawai negeri sipil. Karena itu hampir semua capres dalam kampanye lalu memberikan iming-iming menaikkan kesejahteraannya.
Diakui bahwa penghargaan pemerintah Indonesia terhadap guru masih sangat rendah, malah cenderung tidak masuk akal. Guru yang mendapat predikat membanggakan sebagai "pahlawan tanpa tanda jasa" dan menjadi faktor terdepan dan penentu untuk memajukan pendidikan anak bangsa itu, ternyata digaji jauh lebih rendah ketimbang upah seorang tukang bangunan. Yang pasti tingkat kenaikan gaji guru yang berlaku selama ini tidak sebanding dengan tingkat kenaikan barang-barang kebutuhan pokok.Kecuali jika pemerintahan baru nanti bisa membuat langkah revolusioner, membuat biaya hidup di Indonesia kembali menjadi murah seperti dulu, dan seperti harapan rakyat kecil sekarang ini.
Uang Vs Ikhlas
Menerima gaji karena mengajar tidak bertentangan dengan maksud mencari keridhoan Allah di dunia ini karena guru memerlukan uang dan harta untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Menerima gaji tidak mesti menghilangkan keikhlasan, keikhlasan sebenarnya tidak berhubungan dengan uang. Tidak di gajipun dapat saja tidak ikhlas dan di gaji besarpun dapat juga sangat ikhlas. Ikhlas adalah suasana hati, sedangkan uang adalah suasana lahiriah, jika ternyata uang menjadikan seseorang tidak ikhlas maka hal itu bukanlah karena uang, itu disebabkan karena kesalahan mengatur suasana hati.
Bagaimana seseorang bisa ikhlas jika ia dihimpit oleh kekurangan makan, tempat tinggal, bahan bacaan, tidak punya kendaraan untuk memperlancar tugasnya. Jika diilihat dari segi ini, seseorang lebih mungkin ikhlasnya bila keadaannya sudah serba cukup, jadi benarkah pernyataan bayar gajinya sebesar mungkin agar ia lebih ikhlas. Kesimpulannya adalah gaji guru harus besar agar ia ikhlas, agar ia rajin mengajar, dan agar profesinya meningkat terus karena untuk meningkatkan profesi harus belajar terus, harus meneliti, harus bekerja full time, dan semua itu tidak dapat di gunakan bila gajinya kecil. Gaji itu merupakan salah satu awards dan bentuk motivasi bagi guru sendiri untuk memenuhi kebutuhannya.
Pemerintah harus memberikan porsi yang sama baik kepada guru negeri maupun guru swasta. Guru swasta juga manusia yang harus mendapatkan apresiasi terhadap profesinya, sama dengan bidang profesi lainnya; dokter, hakim , polisi, pilot dan lain sebagainya. Peranan guru pulalah yang telah menjadikan mereka menjadi seorang dokter, seorang polisi dan lain sebagainya. Pondasi pengetahuan dasar yang guru berikan kepada mereka tertanam secara kokoh di sanubari. Guru telah memberikan kontribusi yang tidak kecil kepada mereka dalam menjalani karir dan kehidupan sepanjang masa. Negara yang besar adalah negara yang selalu menghargai jasa-jasa pahlwan dan pemerintah yang besar adalah pemerintah yang selalu peduli dan menghargai kiprah guru-guru bangsanya.